Langkah Positif 6
^^JATI DIRI^^
Bismillah..
Jati diri. Itulah yang kebanyakan pemuda dan
pemudi dicari dimasa mudanya. Dalam hal ini Islam telah memberikan fasilitas
yang luar biasa kepada umatnya dalam hal pencarian jati diri. Fasilitas
tersebut selanjutnya akan menjadi suatu standart yang optimal selama proses
pencarian jati diri.
Fasilitas tersebut adalah tauladan. Bukan
sekedar tauladan yang biasa. Tauladan ini berasal dari seseorang. Seseorang ini
pun bukan seseorang yang biasa pula. Beliau menjadi sosok yang paling terkemuka
di negeri dunia maupun di negeri akhirat, sepanjang masa. Yang paling bijak pendapat
dan keputusannya serta pemimpin dan panglima perang paling tangguh. Beliaulah
Nabi Rosul Muhammad SAW.
Hadirkan dalam diri cetakan manusia paling
sempurna tersebut selama proses pencarian jati diri. Dalam diri Rosul telah
tertanam akhlakul karimah yang luar biasa, yang dengan akhlakul karimah
tersebut akan tercermin banyak tauladan kebaikan.
Inti poin hubungan antara Jati Diri – Fasilitas
– Standart Optimal adalah pada ‘prosesnya’. Proses pencarian Jati Diri dengan
Fasilitas yang diberikan oleh Islam, melalui Standart Optimal berupa tauladan
Rosul. Langkah awal yang dilakukan adalah menghayati suka duka diri yang dirasakan selama proses pencarian jati diri, kemudian
disingkronkan dengan suka duka Rosul
selama kehidupannya. Selanjutnya, hadirkan standart tauladan Rosul, sehingga
akan timbul rasa untuk terus berbuat baik, terus, terus dan terus. Sampai pada
akhirnya akan datang rasa rindu kepada Rosul. Namun, bukan sekedar rasa rindu
biasa, rindu ini dibarengi dengan senantiasa istiqomah ikuti tauladan Rosul.
Demikianlah sebaik – baik jalan proses pencarian jati diri.
Pembahasan tentang jati diri dan tauladan Rosul
menjadi awal pembahasan saya pada bagian kedua yaitu tentang tauladan Ibu. Bagi
saya Ibu adalah guru yang pertama kali mengajarkan saya tentang arti kehidupan.
Sampai saat inipun begitu banyak tauladan yang diberika Ibu kepada saya.
Pertama, Ibu mengajarkan kepada saya akan
pentingnya kebersihan. Sampai pada akhirnya saya semakin paham makna
‘kebersihan adalah sebagian dari Iman’. Maka berdasar semboyan tersebut dapat
dikatakan, tingkat keimanan seseorang dapat tercermin dari tingkat kebersihannya.
Semakin seseorang tersebut mengacuhkan kebersihan dirinya, maka dapat
dipastikan bahwa diapun juga sedang mengacuhkan keimanan dirinya. Salah satu
hal yang mengesankan dari tauladan Ibu saya pada bagian kebersihan ini adalah
beliau begitu luar biasa manakala mencuci sepatu saya. Sepatu yang telah dicuci
menjadi baru kembali karena begitu bersihnya, termasuk pakaian yang beliau cuci
juga begitu bersih.
Kedua, Ibu mengajarkan kepada saya akan
pentingnya waktu. Sampai pada akhirnya saya semakin paham makna tentang waktu.
Bahkan kaitannya dengan pentingnya waktu, Allah SWT telah menegaskan dalam Al –
Qur’an. Allah SWT telah banyak bersumpah berkaitan tentang waktu. Seperti yang
telah kita ketahui bersama bahwa apabila suatu perkara telah disumpah oleh
Allah SWT maka sunggu begitu banyak hal yang sangat diutamakan didalamnya. Salah
satu hal yang mengesankan dari tauladan Ibu dalam hal waktu adalah beliau
begitu tertib dalam hal mengingatkan untuk makan tepat waktu dan jangan sampai
telat, termasuk mengingatkan untuk kebersihan mandi pun juga begitu tertib.
Ketiga, Ibu mengajarkan kepada saya akan
pentingnya sabar. Sampai pada akhirnya saya semakin paham makna sabar. Sabar
dapat digunakan sebagai kunci loyal hadapi apapun, bagaimanapun dan siapapun. Mengendalikan
kesabaran sama halnya dengan mengendalikan hawa nafsu. Kaitannya dengan hawa
nafsu yang ada dalam diri, ibarat sebuah kutub pada magnet yaitu kutub positif
(+) dan negatif (-). Maka dalam diri kita pun juga terdapat yang namanya kutub
positif (+) dan negatif (-). Kutub positif (+) sebagai respon baik dan kutub
(-) sebagai respon buruk. Ketika suatu aksi terjadi pada diri kita, maka respon
manakah yang akan kita menangkan. Apakah respon baik apakah respon buruk,
kuncinya ada pada diri kita masing – masing. Karena seperti yang telah kita
ketahui bersama bahwa manusia adalah pemimpin, termasuk memimpin diri kita
sendiri untuk memilih yang baik atau buruk.
Keempat, Ibu mengajarkan kepada saya makna
istiqomah. Pada bagian ini yang dimaksud istiqomah adalah suatu aktivitas yang
dilakukan terus menerus secara rutin, yaitu nasehat. Tak bosan dan tak henti –
hentinya Ibu senantiasa memberikan nasehat kepada saya dalam hal kebaikan.
Sampai pada akhirnya saya semakin paham makna, ketika kita memberikan suatu
nasehat kebaikan kepada orang lain, maka jangan hanya berharap orang lain
tersebut melakukan apa yang telah kebaikan itu kita nasehatkan. Namun lebih
berharaplah setelah memberikan nasehat segera kita juga meminta berkah dari
Allah, agar ketika orang yang kita nasehati berkali – kali namun tidak
melakukan apa yang telah kita nasehatkan, kita masih mendapatkan berkah dari
Allah.
Demikian sedikit tauladan dari Ibu saya yang
dapat saya sampaikan. Selebihnya begitu banyak tauladan beliau yang belum bisa
saya rinci satu per satu. Segala tauladan yang telah Ibu saya berikan kepada
saya, senantiasa akan saya ikhtiyarkan untuk kemudian terakumulasi dalam
cerminan saya sebagai anak beliau yang Sholihah.. Aamiin..
Selanjutnya tauladan yang berikutnya saya
dapatkan dari beliau yang begitu saya banggakan yaitu Bapak saya. Tidak jauh
beda dengan tauladan kebaikan yang telah Ibu berikan kepada saya, namun Bapak
lebih kepada penanaman karakter kepada anaknya. Pertama, Bapak mengajarkan
kepada saya makna keberanian. Dalam hal ini keberanian yang dimaksud adalah
keberanian untuk mengutarakan kebenaran dan kebaikan. Termasuk juga keberanian
untuk berbicara didepan umum dan didalam forum.
Kedua, Bapak mengajarkan kepada saya makna kepedulian.
Seperti yang telah kita ketahui bersama ketika suatu harta yang kita miliki, sejatinya
adalah bukan sepenuhnya milik kita, namun terdapat sebagian didalamnya harta
hak orang lain. Ibaratnya seperti ketika kita memiliki uang 10.000 kemudian 3.000
untuk kita sedekahkan dan pada akhirnya sisa 7.000. Maka uang yang sesungguhnya
kita miliki adalah sebesar 3.000 yang telah kita sedekahkan. Sedangkang yang
pada kenyataannya 7.000 yang kita miliki, uang tersebut tidak jamin dapat kita
miliki sepenuhnya, karena bisa jadi setelahnya uang tersebut kita gunakan untuk
membantu orang lain, maka uang tersebut telah beralih kepada orang lain lagi.
Ketiga, Bapak mengajarkan kepada saya makna
kepekaan. Saya sebagai putri satu – satunya, beliau tidak sungkan dalam hal
mengajari saya untuk masak. Yang biasa Bapak ajarkan adalah memasak nasi
goreng. Selain memasak, Bapak juga mengajarkan membuat minuman. Yang biasa Bapa
ajarkan dalam membuat minuman ketika musim alpukat tiba adalah membuat jus
alpukat. Dan sering kali Bapak begitu mendukung dan mengapresiasi kreasi
makanan apa yang coba saya bikin.
Keempat, Bapak mengajarkan kepada saya makna
cinta alam. Filosofi merawat tanaman begitu banyak nilai yang terkandung
didalamnya. Mulai dari persiapan tanah dan pupuk, kemudian persiapan bibit
termasuk persiapan tempat penanaman, semua itu perlu benar – benar dipersiapkan
untuk memulai kehidupan suatu tanaman yang ingin ditanam. Setelah selesai pun,
perlu yang namanya kerutinan dalam hal menyirami termasuk pula perutinan dalam
hal pengecekan hama apa saja yang mengganggu. Kesemuanya itu telah Bapak
ajarkan kepada saya. Selain itu lingkungan yang mendukung optimalnya
pertumbuhan tanaman yang kita tanam pun juga begitu dibutuhkan. Maka, Bapak
mengajarkan untuk yang namanya menjaga kebersihan dan kerapin kebun dan halaman
luar rumah.
Kelima, Bapak mengajarkan kepada saya makna
keoptimisan. Seperti yang telah kita ketahui bersama, ketika kita telah dapat
memimpikan suatu cita – cita, maka secara tidak langsung kita telah melakukan
satu langkah menuju cita – cita tersebut. Maka benar dikatakan bahwa tidak ada
mimpi yang mustahil tidak dapat dilakukan, karena dengan bermimpi tersebut kita
telah melakukan satu langkah menuju ke impian tersebut, yaitu langkah bermimpi.
Kemudia sering kita pahami juga, Allah SWT senantiasa bersama dengan prasangka
hambanya. Dari sini dapat kita pahami bahwa ketika kita berprasangka buruk atau
pesimis maka secara langsung hal tersebut menjadi doa kita, begitu pun ketika
kita berprasangka baik atau optimis, hal tersebut pun juga bisa menjadi doa
kita.
Keenam, Bapak mengajarkan kepada saya makna
menghormati tamu. Tamu yang datangnya dari jauh maupun dekat mereka termasuk
musafir yang dalam keberjalanannya menuju rumah kita. Maka perlu kita perlakukan
dengan baik kedatangan mereka. Hal tersebut diajarkan oleh Bapak saya untuk
memberikan sambutan yang terbaik. Makna seorang musafir begitu berarti ketika
seorang musafir tersebut dalam keberjalanannya kemana saja diniatkan untuk
mencari Ridho Allah SWT.
Ketujuh, Bapak mengajarkan kepada saya makna
amal yaumi. Terang benderang pengingatan amal yaumi yang saya rasakan saat ini,
ternyata sudah sejak dahulu Bapak telah mengajarkannya. Salah satunya Bapak
mengajarkan sejak saya kecil untuk rutin tilawah ba’da sholat Maghrib. Kemudian
bersungguh – sungguh dalam berdoa, termasuk mendoakan saudara muslim dan
keluarga yang telah mendaului, dan segala macam doa untuk memulai segala bentuk aktivitas.
Demikian tauladan yang Bapak ajarkan kepada
saya. Begitu banyak hal yang juga Bapak ajarkan kepada saya namun belum bisa
merincinya satu persatu. Pada intinya, dari apa yang telah saya uraikan dari
tauladan Ibu dan Bapak, senantiasa saya hadirkan ketika saya melakukan suatu
hal buruk, maka secara otomatis saya berkeyakinan bahwa Ibu dan Bapak saya
tidak mengajarkan hal yang demikian, maka saya harus segera menghentikan hal
buruk yang saya lakukan tersebut. Satu lagi yang menjadi salah satu doa saya
adalah dengan segala tauladan yang telah Ibu dan Bapak saya berikan, saya dapat
semakin semangat untuk senantiasa menuju Muslimah Pembelajar dan akhirnya
menjadi anak yang Sholihah Jiwa Raga.. Aamiin..
“Sebaik –
baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ahmad, ath –
Thabrani, ad - Daruqutni)
Agendakanlah, karena sebagian waktu yang kita
miliki, terdapat waktu untuk orang lain.
Berdoalah, karena sebagian doa kita terdapat doa
orang lain.
Bersedekahlah, karena sebagian harta kita
terdapat harta orang lain.
Bersihlah, karena sebagian kebersihan kita
menjadi kebersihan orang lain.
Bersemangtlah, karena sebagian semangat kita
menjadi semangat orang lain.
Tersenyumlah, karena sebagian senyum kita bisa
menjadi pelipur lara orang lain.
#MuslimahPembelajar
#SholihahJiwaRaga
NB : Terkadang secara tidak sadar ketika kita ngobrol asyik dengan teman, banyak pembahasan yang kita sampaikan kesana kesini sampai pada akhirnya meng ghibah orang. Jarang sekali kita dalam ngobrol asyik dengan teman membicarakan hal - hal kaitannnya dengan Ibu Bapak. Mulai dari kenangan masa kecil, tauladan yang pernah diajarkan, pengalaman seru atau yang lainnya. so, treatment ghibah dengan cerita tentang Ibu Bapak yuk.. InsyAllah menjadi doa amal baik beliau.. ^^
NB : Terkadang secara tidak sadar ketika kita ngobrol asyik dengan teman, banyak pembahasan yang kita sampaikan kesana kesini sampai pada akhirnya meng ghibah orang. Jarang sekali kita dalam ngobrol asyik dengan teman membicarakan hal - hal kaitannnya dengan Ibu Bapak. Mulai dari kenangan masa kecil, tauladan yang pernah diajarkan, pengalaman seru atau yang lainnya. so, treatment ghibah dengan cerita tentang Ibu Bapak yuk.. InsyAllah menjadi doa amal baik beliau.. ^^
Komentar
Posting Komentar