Langkah Positif 7
Bismillah..
^^JANUARI^^
Doa adalah bisa dikatakan interaksi
atau komunikasi antara seorang hamba dengan sang penciptanya. Islam begitu
indah memberika fasilitas Doa ini. Dalam sehari umat islam diberikan kesempatan
untuk berdoa melalui ibadah sholat wajib sebanyak lima kali dalam sehari.
Bagaikan diri yang dicuci bersih sebanyak lima kali dalam sehari, maka
bersihlah yang akan dihasilkan. Saya pribadi, terdapat dua macam doa yang saya
panjatkan kepada Allah SWT setiap kali melakukan lima kali ibadah sholat wajib
tersebut. Saya sebut yaitu Doa rutinan dan Doa kondisional. Doa rutinan adalah
Doa jangka panjang yang sejak dini telah saya mohonkan kepada Allah SWT. Dan Doa
kondisional adalah Doa yang saya panjatkan sesuai dengan keadaan yang saat itu
saya rasakan dan alami. Beberapa Doa saya pada bulan ini salah satunya adalah,
Allah SWT ijinkan saya diberikan kesehatan yang barokah digunakan untuk
beribadah (Amal Yaumi), kekuatan untuk menjadi pemimpin termasuk mimimpin diri
ini sendiri (Anak Sholihah), serta keteguhan untuk senantiasa meningkatkan
potensi dalam diri (Kuliah).
Seperti yang telah kita ketahui bersama tentang
3 tugas manusia ada di bumi. Pertama, beribadah kepada Allah SWT. Allah memerintahkan manusia untuk
beribadah sebagai bentuk rasa syukur atas karunia dan nikmat yang diberikan-Nya
seperti disampaikan dalam QS. Adz-Dzariyat ayat 56 berikut. “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan
supaya mereka menyembah-Ku.” Jadi tugas utama manusia adalah
menyembah (beribadah) kepada Allah, bukan untuk yang lainnya. Ibadah disini
dalam arti luas yang tidak melulu shalat, zakat, puasa, naik haji dan
sebagainya, namun bermakna luas. Segala sesuatu yang diperbuat seseorang karena
ketaatan dan ketundukannya kepada Allah adalah ibadah. Saat kita kuliah dengan
niat bismillah mencari ilmu Allah, maka itu bisa dihitung ibadah. Ketika
kita tersenyum ikhlas pada saudara seiman itu juga ibadah. Ketika mencari air
dari pegunungan pun bisa dinilai ibadah, karena setelahnya air tersebut
dipergunakan untuk bersuci atau wudhu. Bahkan sekedar menyingkirkan
duri/rintangan di jalan pun dikatakan Rasulullah sebagai ibadah. Ibnu Taimiyah
mengartikan ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai Allah dan diridhoi-Nya.
Prinsip “hidup hanya untuk beribadah” jangan dimaknai meninggalkan berbagai
aktivitas untuk melaksanakan ritual ibadah tapi dimaknai dengan menjadikan
seluruh aktivitas kehidupan bernilai ibadah.
Tugas
manusia di bumi yang kedua adalah sebagai
pemimpin di muka bumi (khalifah fil ardhi). Allah swt. memilih
manusia untuk memimpin dan mengelola bumi dengan seluruh isinya. Hal ini karena
kelebihan manusia atas kehendak Allah swt. yang tidak dimiliki oleh makhluk
lain, yakni kecerdasan yang dimilikinya. Perhatikan firman Allah swt berikut:
“Ingatlah ketika Tuhanmu
berfirman kepada malaikat, “sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka
bumi. ”Mereka berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan khalifah di bumi ini
orang yang akan
membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa
bertasbih
dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?”
Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang engkau tidak ketahui.” (Al-Baqarah: 30)
Pemimpin disini juga berarti lebih
spesifik, yaitu memimpin diri sendiri. Segala pengaruh baik itu kebaikan maupun
keburukan, kunci utama untuk memilihnya adalah diri ini sendiri. Maka, diri ini
sendirilah yang akan memimpin untuk memilih kebaikan ataukah keburukan yang
akan dilakukan. Sering kali kita menjumpai pernyataan bahwa hidup ini banyak
sekali pilihan, karena pada hakikatnya kehidupan inipun sebuah pilihan.
Tugas manusia di bumi yang ketiga
adalah misi Peradaban (Al
‘Imarah).
Manusia dengan berbagai potensi yang dianugerahkan Allah, adalah makhluk
berperadaban. Dengan otaknya, manusia mampu menciptakan karya-karya besar dalam
kehidupan ini untuk meramaikan dan memakmurkan kehidupan agar lebih nyaman
ditinggali. Allah swt berfirman dalam QS. Hud ayat 61, yaitu :
“Dan kepada Samud (Kami utus)
saudara mereka, Salih. Salih berkata, ”Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu tuhan
selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu
pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhan-ku amat dekat
(rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).” (Hud : 61)
Bersamaan dengan itu, Islam hadir
dengan tuntunan syariatnya yang komprehensif dan integral, yang memungkinkan
manusia memberdayakan seluruh potensinya untuk mengemban misi agung sebagai
makhluk yang berperadaban, untuk membangun kehidupan dengan bimbingan
nilai-nilai luhur Islam. Seperti yang telah kita ketahui bersama yaitu salah
satu ciri orang yang hebat adalah dialah yang begitu detail dengan disiplin
ilmu yang dipelajarinya namun juga memiliki wawasan yang luas dengan sagala hal
disekitarnya. Dan orang yang hebat pula dialah yang begitu sederhana dapat
menyampaikan dan memahamkan kepada orang lain dari komplesnya ilmu yang dia
pelajari, demikianlah pemanfaatan peluang potensi diri.
Setelah membahasa kaitannya Doa yang
dipanjatkan dibulan Januari ini, maka selanjutnya yang akan kita bahas adalah
waktu – waktu mustajab untuk Berdoa kepada Allah.
NOMOR
|
WAKTU
|
DASAR
|
Pertama
|
Ketika sahur atau sepertiga malam terakhir
|
“Rabb
kita turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang akhir pada setiap
malamnya. Kemudian berfirman : ‘Orang yang berdoa kepada – Ku akan
Kukabulkan, orang yang meminta sesuatu kepada – Ku akan Kuberikan, orang yang
meminta ampun dari – Ku akan kuampuni’.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
|
Kedua
|
Ketika berbuka puasa
|
“Orang
yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan : kebahagiaan ketika berbuka puasa dan
kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabb – Nya kelak.” (HR. Muslim)
|
Ketiga
|
Ketika Lailatul Qadar
|
“Aku
bertanya kepada Rasulullah: Wahai Rasulullah, menurutmu apa yang sebaiknya
aku ucapkan jika aku menemui malam Lailatul Qadar ? Beliau bersabda :
Berdoalah: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa ‘fu ‘anni [‘Ya Allah,
sesungguhnya engkau Maha Pengampun dan menyukai sifat pemaaf, maka ampunilah
aku’]” (HR. Tirmidzi no. 3513, Ibnu Majah
no. 3119, At Tirmidzi berkata : “Hasan Shahih”)
|
Keempat
|
Ketika adzan berkumandang
|
“Dan
tidak tertolak pada dua waktu, atau minimal kecil kemungkina tertolaknya. Yaitu
ketika azan berkumandang dan saat perang berkecambuk, ketika kedua kubu
saling menyerang.” (HR. Abu Daud no. 2540. Ibnu Hajar al
– Asqalani dalam Nata – ijul Afkar, 1/ 369, berkata: “Hasan Shahih”)
|
Kelima
|
Ketika diantara azan dan iqamah
|
“Doa
diantara azan dan iqamah tidaktertolah.”
(HR. Tirmidzi, 212, ia berkata: “Hasan Shahih”)
|
Keenam
|
Ketika sedang sujud dalam shalat
|
“Seorang
hamba berda paling dekat dengan Rabb – nya adalah ketika ia sedang bersujud.
Maka pernbanyaklah berdoa ketia itu.” (HR. Muslim, no. 482)
|
Ketujuh
|
Ketika hari Jum’at
|
“Rasulullah
SAW menyebutkan tentang hari Jum’at kemudia Beliau bersabda: ‘Di dalamnya
terdapat waktu. Jika seorang Muslim berbeda ketika itu, pasti diberikan apa
yang ia minta’. Lalu Beliau mengisyaratkan dengan tangannya tentang
sebentarnya waktu tersebut.”
(HR. Bukhari 935, Muslim 852 dari Abu Hurairah)
|
Kedelapan
|
Ketika turun hujan
|
“Dan
tidak tertolak pada dua waktu, yaitu ketika azan berkumandang dan ketika
hujan turun.” (HR. Al – Hakim, 2534, dishahihkan
Albani di Shahihkan al – Jami’, 3078)
|
Kesembilan
|
Ketika hari Arafah
|
“Doa
yang terbaik adalah doa ketika hari Arafah.” (HR. At – Tirmidzi, 3585. Dishahihkan Albani dalam Shahih
Tirmidzi)
|
Kesepuluh
|
Ketika perang berkecambuk
|
“Dan
tidak tertolak pada dua waktu, atau minimal kecil kemungkina tertolaknya.
Yaitu ketika azan berkumandang dan saat perang berkecambuk, ketika kedua kubu
saling menyerang.” (HR. Abu Daud no. 2540. Ibnu Hajar al
– Asqalani dalam Nata – ijul Afkar, 1/ 369, berkata: “Hasan Shahih”)
|
Kesebelas
|
Ketika meminum air zamzam
|
“Khasiat
Air Zamzam itu sesuai niat peminumnya.” (HR. Ibnu Majah, 2/ 1018. Dishahihkan
Albani dalam Shahih Ibnu Majah, 2502)
|
#JANUARI
hujan sehari –hari.. Tuk berdoa tiada henti.. ^^
#MuslimahPembelajar
#SholihahJiwaRaga
Komentar
Posting Komentar