Langkah Positif 1
Sepenggal Kisah Sebelum Menjadi Anggota Istimewa
Bismillahirrohmanirrohim
..
Saya mengenal Rohis sejak duduk dibangku SMA tahun 2011.
Saat itu saya memiliki sebuah tujuan yang menurut saya adalah tujuan yang
sangat jauh dibawah rendah dari standart sebuah tujuan seseorang mengikuti
organisasi. Tujuan saya tersebut yang pertama adalah karena alasan riwayat
pendidikan saya berasal dari latar belakang Madrasah Ibtidaiyah kemudian
berlanjut ke Madrasah Tsanawiyah maka saat saya di pendidikan selanjutnya karena
tidak memilih di Madrasah Aliyah namun di SMA yang sejajar dengan Madrasah
Aliyah maka saya beranggapan untuk bergabung di Rohis SMA tersebut agar tidak
begitu luntur ilmu agamanya. Selain alasan tersebut, alasan terjerumus dalam
kebaikan karena ajakan sohib - sohib syurgawi juga menjadi salah satu penyebab
saya mengikuti Rohis.
Tahun pertama saya mengikuti organisasi Rohis saya
diamanahi sebagai Bendahara. Bendahara disini masih ada embel – embel nya yaitu “Bendahara II”. saat mengetahui bahwa saya
diamanahi sebagai bendahara saya sangat tidak menyangka, karena yang saya tahu
tentang diri saya sendiri adalah saya orang yang tidak begitu lihai dalam hal
hitung menghitung, ketelitian saya dalam mengerjakan sesuatupun menurut saya
masih sangat rendah. Jadi, indikator yang digunakan kakak kelas sebelum
menentukan saya sebagai bendaharapun bulum saya
mengerti samai saat ini. Namun lambat laun saya mencoba mempositifkan
pikiran saya untuk menjadikan amanah tersebut bukan sebagai beban namun sebagai
tantangan hal baru yang harus saya lakukan sebaik – baiknya.
Selain
itu motivasi yang saya gunakan sampai saat ini ketika merasa tidak sanggup
bahkan tidak pantas mengemban suatu amanah, maka pemikiran saya adalah amanah
tidak akan pernah salah terhadap siapa yang mendapat amanah tersebut, tetapi
yang melakukan atau yang mendapat amanah itulah yang tidak begitu sungguh –
sungguh atau tidak begitu optimal dalam melaksanakannya. Sebab amahan pada
hakikatnya dapat mendatangi kita kapanpun ia mau, seperti ketika kita telah
terjun di dunia organisasi makan jangan kaget ketika tiba – tiba anda diamanahi
sebagai ketua panitia, sekertaris, bendahara bahkan sie perkap dan lain
sebagainnya. Diperlukan kepercayaan, kesungguhan, pengorbanan dan keikhlasan
dalam menjalankan amanah agar tidak hal sia – sia seperti lelah dan kecewa yang
hanya kita dapat setelah selesai melaksanakan amanah, namun kelegaan,
ketenangan dan kebanggaan atas diri sendiri,karena mampu melaksanakan amanah
dengan sebaik mungkin yang tidak sembarang orang mendapat amanah itu, baik
amanah kecil maupun besar yang nantinya kita dapatkan. Namun apabila yang kita
harapkan dalam menjalankan amanah adalah hanya untuk mendapatkan Ridho Allah
SWT maka bukan hanya Ridho Allah SWT itu yang nantinya akan kita dapat namun
kebaikan untuk sesama dapat juga kita dapatkan.
Tahun kedua di Rohis menjadi sebuah tahun yang sangat
memuncak dalam periode kepengurusan tahun saya. Masih teringat jelas dalam
benak saya ketika begitu rumit seorang bendahara menyelesaikan Laporan
Pertanggung Jawaban (LPJ) setelah sebuah organisasi mengadakan event kegiatan
besar, bagaikan sebuah benang yang sulit diluruskan kembali setelah benang
tersebut digulung dengan sembarang tidak beraturan, begitulah keadaannya bila
digambarkan. Keluar masuk kelas, ijin tidak mengikuti jam pelajaran, cari
mencari tanda tangan guru, cari mencari konsultasi dengan kakak kelas, rapat,
pulang sore, telat makan, telat belajar dan lain sebagainya menjadi sebuah
rutinitas di Rohis kepengurusan tahun ke dua ini. Satu hal yang saat ini saya
sadari, ternyata semua hal tersebut belum ada apa – apanya saat kita telah
berada di bangku kuliah bila mengikuti organisasi keislaman di kampus. Di
Universitas dimana saat ini saya duduk untuk menuntut agungnya Ilmu,
diistilahkan sebagai Lembaga Dakwah Kampus (LDK) dengan cabangnya untuk
Fakultas menjadi Lembaga Dakwah Fakultas (LDF) sesuai disiplin ilmu masing -
masing. “Pejuang Cinta Dakwah” itulah yang kebanyakan saat ini booming disebut
bagi seseorang yang sungguh – sungguh dengan keteguhan hati melakukan
perjuangan dakwah dengan sepenuh hati, jiwa dan raga yang dia miliki untuk
tujuan mendapat ridho Allah SWT semata.
Tahun ketiga menjadi tahun yang vakum bagi kegiatan saya
di organisasi Rohis. Hal tersebut baru saya sadari saat ini ternyata kondisi
tersebut menjadi sebuah titik yang sangat mengecewakan dalam perjalanan
perjuangan menjadi “Pejuang Cinta Dakwah” saya. Sebab dititik seperti itulah
sebuah pejuang Dakwah akan merasakan sensasi sebuah perjuangan Dakwah yang
sesungguhnya. Sebab harga tertinggi sebuah perjuangan dakwah adalah ketika kita
melaksanakan dakwah dengan semakin banyak hal yang menyertainya yang kita
dituntut untuk cepat dalam melaksanakan pemilihan prioritas yang mana dulu
harus dilaksanakan. Apabila kita berhasil memilih yang mana yang lebih
prioritas untuk dilaksanakan maka berkah yang lebih berlipat yang nantinya akan
kita dapatkan. Dengan berfikiran seimbang saya tidak mau mengambil kenyataan
saya yang telah terjadi tersebut menjadi sepenuhnya mengecewakan, namun dengan
terjadinya hal tersebut saya dapat merasakan begitu pentingnya perjuangan
Dakwah selayaknya terus diperjuangkan. Karena pada hakikatnya bukan Dakwah yang
membutuhkan kita, namun kita senidrilah yang sangat membutuhkan Dakwah.
Dengan kata lain, Dakwah adalah sebuah wadah atau sarana atau saham kita dalam
mencari pahala untuk tujuan ridho Allah SWT.
Kondisi
saat posisi vakum dari kegiatan organisasi Rohis tersebut adalah saya
dihadapkan dengan Ujian Nasional dengan pasangannya Ujian Sekolah dan ujina –
ujian hidup lainnya. Tidak bermaksud mengurangi rasa kesungguhan dalam
menghadapi ujian – ujian tersebut namun dengan tidak sepenuhnya fokus dalam hal
tersebut akan lebih baik dan bermakna apabila dibarengai dengan keyakinan Iman yang
senantiasa diselimuti dengan Takwa yang mantab.
Banyak hal baru yang mulai saya rasakan ketika
saya telah resmi menjadi Mahasiswi Universitas Sebelas Maret (UNS). Salah
satunya adalah bergabungnya saya di Lembaga Dakwah Fakultas bernama SKI (Syiar
Kegiatan Islam) diFakultas dimana saya menuntut luar biasanya ilmu. Disitulah
bagi saya awal dari segala awal perjuangan Dakwah saya bermualai. Masih
teringat secara jernih dalam benak saya ketika saya masih dengan santai
mengenakan celana jeans wanita ketat ke kampus, mengenakan jilbab tipis dengan
berbagai variasi modern yang tidak jelas kiblat kesyariannya ditambah dengan
konde yang wow di atas kepala,
mengenakan pakaian yang tak sepantasnya dikenakan bagi perempuan yang telah
terbalut jilbab atau dengan kata lain pakaian ketat dan lain sebagainya.
Kesan
pertama saya mengenal SKI adalah ketika di stand
UKM yang dulu saya belum begitu memahaminya yang ternyata adalah sebuah
Ekskul apabila diibaratkan seperti ketika di SMA. Stand SKI saya kunjungi setelah sebelumnya saya mengunjungi stand HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan)
yang dalam jurusan saya Farmasi namanya HIMAFARMA (Himpunan Mahasiswa Farmasi)
berlokasi di belakang gedung C FMIPA UNS. Dan sebelumnya saya juga berada di stand BEM di Audit UNS setelah melakukan
registrasi ulang. Di stand BEM saya mengisi data kedalam laptop yang
telah tersedia terkait nama lengkap nama fb dan lain sebagainya. Barulah
setelah semua itu saya menuju ke stand SKI
yang berlokasi di Taman FMIPA UNS. Yang teringat dalam benak saya ketika berada
di stand SKI adalah posisi stand nya itu miring, namun yang paling
terkesan adalah ketika keadaannya saat itu lelah, capek, panas dan haus maka di
stand SKI kami diberi es kopyor yang
itu sangat membuat saya melegakan dan menyegarkan, itulah bagian yang paling
tidak bisa dilupakan.
Kegiatan
selanjutnya yang saya ikuti dari SKI setelah sebelumnya SAMARU adalah kegiatan
TM3 yang pada bagian Diploma karena saya Mahasiswa Diploma disebut GSM (Gerbang
Semangat Muslim). TM3 dan GSM memiliki esensi yang sama yaitu menyatuka
Mahasiswa Baru atau Maru Muslim yang ada di FMIPA UNS. Yang membedakan adalah
pesertanya, kalau TM3 untuk Mahasiswa Sarjana dan TM3 untuk Mahasiswa Diploma.
Kegiatan ini dilakukan di Aula FMIPA UNS gedung B lantai 4. Gambaran acaranya
seperti seminar terkait keIslaman dan display UKM SKI.
Keberlanjutan
dari kegiatan SAMARU bersyukur saat itu saya dibukakak pintu hati untuk mau
mengikutinya. Saya semakin yakin akan kasih sayang Allah terhadap saya dengan
dituntunnya saya mengikuti serangkaian kegiatan indah ini. Namun dengan semua
kenikmatan ini saya tidak mau secara langsung lengah terhadap semuanya, karena
masih banyak peran yang dinanti banyak orang yang harus saya beri kontribusinya
secara langsung. Follow up itu adalah kegiatan MATRIKS.
Sebelum
kebergabungan saya ke SKI, sebuah pintu emas yang saya lalui sebelum masuk
gerbang SKI adalah melalui info dari AAI (Asistensi Agama Islam). AAI adalah
sebuah lembaga keislaman yang dimiliki Universitas saya berada yang bergerak
dalam pembinaan secara lebih personil ke semua mahasiswa mahasiswi muslim
muslimah di Universitas dalam bentuk kelompok – kelompok kecil, dijabarkan dari
Universitas ke Fakultas selanjutnya dari Fakultas ke jurusan dalam Fakultas
tersebut untuk dikelompokkan lebih detail. Dari kelompok AAI saya yang dibina
oleh Mbak Intan Mia Asmidar kami termasuk saya diberi Golden Ticket untuk
mengikuti MATRIKS, seharga Rp 5.000,-. Sebelumnya belum banyak saya ketahui bahkan
sama sekali tidak mengetahui gambaran kegiatan tersebut sampai akhirnya diberi
sedikit gambaran oleh Mbak Intan. Saat memilih untuk meniatkan diri mengikuti
kegiatan itu pun sangat sulit dan berat. Dengan kebulatan tekat dan kekuatan
iman yang baru sekedarnya saya miliki, akhirnya saya putuskan mengikuti
kegiatan tersebut. Namun setelah selesai mengikuti MATRIKS yang saya dapat
rasakan sangat luar biasa dampaknya bagi diri saya bahkan tidak sebanding
dengan harga ticketnya yang hanya sebesar Rp 5.000,-. Hal seperti itupun juga
dirasakan oleh sahabat saya Tri Hastuti Fathimah yang juga ketika itu saya ajak
mengikuti kegiatan MATRIK. Dia mengakui dihadapan saya bahwa sebelumnya begitu
berat untuk meniatkan diri mengikuti kegiatan tersebut, namun pada akhirnya
begitu melegakan di hati. Dengan kejadian tersebut, saya semakin yakin
tentang kekuatan niat berjuang dijalan Dakwah sangat luar biasa dampaknya
walaupun diawali dengan beratnya pilihan hati.
MATRIKS
adalah salah satu Program Kerja (ProKer) yang dilaksanakan oleh Departemen
Kaderisasi di SKI kepanjangan dari “Mari Berinteraksi Dengan Islam”. Gambaran
tentang kegiatan ini adalah peserta yang dijadikan sasaran adalah mahasiswa
baru, cara registrasinya melalui promo di kelompok – kelompok AAI, langsung ke
tiap personal atau dalam bentuk pamflet di sosial media. Setelah itu bagi ada
yang minat mengikuti membayar tiket sebesar Rp 5.000,-. Kegiatanya berlansung
selama 2 hari 1 malam berlokasi de Tawang Mangu, sebuah kawasan dataran tinggi
yang memang biasa digunakan untuk berbagai kegiatan. Persiapan barang yang
dibutuhkan diantaranya adalah Slayer, Senter, Lilin, Energen, Mukenah, Al
Qur’an, Al Matsurat, Snack, Air minum, Obat Pribadi, Pakaian Out Bond. Belum
terfikir dibenak saya terkait fungsi dari dimintanya membawa barang – barang
tersebut. Ternyata setelah terlaksananya semua kegiatan jadi lebih mengetahui
terkait fungsi dari barang – barang tersebut. Lambat launpun mulai difahamai
bahwa barang – barang tersebut menjadi sebuah hal yang harus dimiliki dan
dibawa secara setia dimanapun berada bagi seorang pejuang Dakwah Cinta. Fungsi
dari barang – barang tersebut dalam kegiatan MATRIKS adalah :
1. Slayer :
sebagai penutup mata ketika sesi renungan, sebagai pelindung ketika game.
2. Senter :
digunakan ketika sesi renungan.
3. Lilin : digunakan ketika sesi
renungan.
4. Energen :
dibuat ketika sesi sarapan.
5. Mukenah :
ibadah solat.
6. Al
Quran : dibaca untuk amal
yaumi.
7. Al
Matsurat : dibaca ketika pagi
dan petang.
8. Snack : dimakan bersama.
9. Air
minum : diminum bersama.
10. Obat
pribadi : persiapan kejadian yang
tidak diharapkan.
11. Pakaian
outbond : sebagai ganti pakaian setelah
kotor.
12. Alat
mandi : digunakan
ketika mandi.
13. Jaket,
sarung tangan dan kaos kaki :
menjadi barang penting dilingkungan dataran tinggi.
14. Sandal
: persiapan akan wudhu
atau mandi.
15. Sepatu : persiapan ketika ourbond.
Barang – barang tersebut secara
langsung sebagian menjadi barang yang rutin saya bawa disetiap ada kegiatan
keluar yang diadakan dari SKI.
Awal
mengikuti kegiatan MATRIKS saya mulai merasakan hadirnya kehangatan ukhuwah
kebersamaan. Saya mulai mengenal banyak teman baru, saya juga merasa ingatan
saya kepada teman – teman sangat mudah. Sampai saat ini pun saya masih banyak
ingat nama – nama teman akhwat yang kali pertama kenalan. Ada Shobrina, Fiitin,
Dielsa, Rebecca, Shoffi, Novi, Novia, Dielsa, Ulfa, Dwi, Uswatun, Siska, Rina,
Dina, Mawar, Tuti, Ria, Ulfa, Syifa, Otie’, Ema, Danis, Aya, Fopi, Azizah,
Ciput, Rima, Peni, Ummu,Vidia, Riris, Putri (alm) dan lain sebagainnya.Ketika
itu kami berangkat dari kampus fakultas mengendarai 2 mini bus, satu mini bus
untuk bagian akhwat dan mini bus lainnya untuk bagian ikhwan. Dari sistem
pembagian tersebut baru saya sadari saat ini tentang awal saya benar – benar
memahami pemisahan antara akhwat (perempuan) dan ikhwan (laki - laki). Dan
menurut saya pemisahan tersebut adalah sebuah budaya yang luar biasa apabila
bisa diterapkan kepada semua organisasi saat melakukan rapat. Sebab saat sebuah
musyawarah dilakukan antara ikhwan dan akhwat terpisah sejatinya mereka akan
lebih terfokus kepada suara pendapat apa yang didengar dan disampaikan tanpa
terfikir mata yang saling menatap.
Ketika
sesampainya dilokasi saya langsung dikejutkan dengan kejadian yang mungkin bagi
sebagian orang dianggap biasa namun menurut saya hal yang mengesankan. Kejadian
tersebut adalah ketika itu rombongan ikhwan sudah lebih dulu sampai di lokasi
villa penginapan mereka, sedangkan rombongan akhwat baru bagian akhir
sampainya, ditambah dengan akhwat masih diminta jalan menuju jalanan yang
lumayan menanjak perjalanannya menuju tempat penginapan. Awalnya kami merasa
sedih karena bagian ikhwan sudah lebih dahulu sampai dan tempat penginapannya
jauh lebih dekat dari lokasi berhentinya mini bus. Namun diluar pemikiran saya
atau bahkan pemikiran sebagian teman – teman, ternyata posisi penginapan kami
jauh lebih atas posisinya dari yang ikhwan karena memang yang akhwat akan lebih
diposisikan diatas. Selain itu ternyata akhwat tidak diminta keluar dari area
penginapan, maka ikhwanlah yang akan datang menuju villa akhwat untuk sesi
kegiatan pemateri. Padahal sesi ini dilakukan beberapa kali, jadi ikhwan butuh
perjalanan naik turun untuk mengikutinya.
Kegiatannya
selain pemateri yang dilakukan di indoor dan outdoor, terdapat juga kegiatan
outbond dan renungan malam. Karena kegiatan ini memang identik dan dominan
keislamanannya maka terdapat juga kegiatan Amal Yaumi, yaitu kami sebagai
peserta diberi targetan amal – amal yang kita lakukan selama mengikuti kegiatan
tersebut. Seperti membaca Al Qur’an, Al Matsurat, sholat jamaah, sholat
rowatib, sholat tahajud dan lain sebagainya. Hal itu yang membuat saya
terkesan, sebab kami akhwat – akhwat yang kebanyakan dari kami masih saya sebut
calon muslimah merasa sangat dihargai, dihormati dan dilindungi.
Satu
hal lagi yang sangat saya rasakan perbedaanya antara kegiatan yang berasal dari
SKI dengan kegiatan yang berasal dari organisasi lain. Namun perbedaan hal
tersebut harus saya syukuri karena dengan dapat merasakannya saya antara dua
kegiatan yang berbeda tersebut, saya menjadi semakin tahu antara ketenangan,
ketegasan, kedislipinan dan kerutinan.
Bagian
terakhir dari kegiatan MATRIKS adalah outbond. Disana kami dibentuk kelompok –
kelompok yang akan menyusuri bagian pos demi pos di sepanjang rute perjalanan.
Bagian ini juga menjadi hal yang sangat mengesankan dan sulit terlupakan untuk
memori kenangan saya. Dipos pertama kami diminta tiap anggota untuk menghafal
doa masuk makam. Kemudian di pos kedua kami diminta untuk menyelesaikan suatu permainan
yang esensinya adalah dibutuhkan dari sebuah tim untuk saling kerjasama dalam
hal keseimbangan, keyakinan, kepercayaan dan kekompakan serta konsentrasi.
Permainan dilakukan dengan cara mengikatkan sebuah tali di masing – masing
lingkar pinggang kami, yang sebelumnya tali tersebut telah disatukan di satu
titik. Di titik tersebut diberi sebuah pena yang harus bisa masuk kedalam botol
yang telah disediakan. Disisi lain salah satu anggota dipilih untuk menulis
disebuah papan yang telah disediakan untuk menulis lirik lagu yang sedang
dimainkan. Namun info yang ditulis perwakilan tim tersebut berasal dari rekan
timnya juga yang sedang dalam proses memasukkan pena dalam botol tadi.
Di
pos ketiga kami melakukan perjalanan selanjutnya diperintahkan menuju sebuah
makam. Ternyata disana kita diminta untuk menyampaikan hafalan doa masuk makan
yang sebelumnya di pos satu telah diperintahkan. Di pos ini kami diberi sebuah
pertanyaan yang wajib dijawab di pos keempat nantinya. Pertanyaan tersebut
adalah “apa 3 hal yang dapat menguatkan mimpi ?”. dari pertanyaan tersebut
beragam asumsi dari tiap kelompok berbeda – beda.
Berlanjut
ke pos empat yang posisinya di jalanan menurun disana terdapat dua baskom berisi
tepung putih. Sebelumnya telah kami jawab pertanyaan dari pos tiga sesuai versi
kelompok kami. Ternyata disana kami diminta berbaris tiap kelompok memanjang.
Kemudian setelah diberi penjelasan dan pengarahan kami memulai melakukannya
permainannya. Yaitu dengan mengambil karet gelang yang ada di baskom tersebut
berisi tepung putih menggunakan mulut. Begitu seterusnya bergilir kebelakang
sampi habis watunya untuk pengumpulan. Pada pos ini memiliki esensi bahwa dalam
sebuah kerjasama tim dibutuhkan sebuah pengorbanan untuk mendapatkan hasil
seoptimal mungkin.
Setelah
selesai melanjutkan perjalanan menuju pos kelima, yang menjadi puncak dari
semua pos. Disana terdapat 3 permainan yang dilakukan. Permainan pertama aturannya
adalah dari tiap tim mewakilkan anggotanya untuk bermain. Yang satu naik ke
sebuah tali, kemudian memecahkan sebuah balon yang ada ditengah – tengah dan
yang satu lainnya membantu di sepanjang perjalanan diatas tali tersebut, begitu
halnya juga pada anggota tim lainnya. Bagi tim yang pertama berhasil memecahkan
balonnya maka dialah yang memenangkan permainannya. Selanjutnya permainan kedua adalah menggunakan
kostum. Sudah disediakan diatas panjatan jaring – jaring busana yang harus
dikenakan secara bergantian dari tiap anggota tim sampai nanti di anggota tim
paling akhir sudah lengkap semua atribut busananya. Diantara atribut itu adalah
helem, sarung, kaca mata, masker dan sarung. Setelah itu dilanjutnya kan dengan
sebuah permainan perebutan bendera SKI. Bendera tersebut berada di sebuah ujung
yang sekitarnya terdapat kakak tingkat SKI untuk menjaga bendera tersebut.
Tugas kami adalah mengambil bendera itu namun sebelumnya diperintahkan terlebih
dahulu mencari pin MATRIKS yang telah dibungkus plastik dan disebar disekitar
rawa – rawa. Aturan permainannya apabila kami telah terkena tembakan plastik
berisi air yang dibawa kakak tingkat SKI maka kami tidak boleh melanjutkan
perjalanan untuk merebutkan bendera SKI.
Pada pos terakhir ini tepatnya pada permainan perebutan
bendera SKI bagi saya yang paling mengesankan. Ketika kami dejelaskan aturan
permainan perebutan bendera SKI yang ada dibenak saya hanyalah bendera, bendera
dan bendera. Dengan setrategi yang telah saya susun saya mulai mengendap –
endap mencari celah untuk melalui segala rintangan. Kondisi saat itu adalah
area yang berlumpur dan dalam. Akhirnya saya tidak menyangka bahwa saya menjadi
orang pertama berhasil memasuki area bendera SKI. Dari kejadian tersebut saya
semakin yakin bahwa kekuatan niat dan kepercayaan sangan luar biasa. Alasan
saya bisa mencapai area bendera pertama kali padahal rekan yang lain masih
sibuk mencari celah melewati rintangan kakak tingkat SKI adalah karena
seharusnya sebelum mencapai area bendera terlebih dahulu mencari pin MATRIKS
yang dibungkus plastik dan disebar di area lumpur. Namun ternyata setelah
sampai di area bendera SKI disana terdapat kakak tingkat yang super ketatat
menjaga keamanan benderanya. Dengan sekuat tenaga kami saling berebut bendera,
sampai akhirnya teman – teman saling membantu dan kami berhasil merebut bendera
dari kakak tingkat SKI. Rasa senang, lega, puas dan terharu semuanya menjadi
satu. Ketika itu rasa terkesan begitu menggetarkan hati, mengetahui perjuangan
kakak tingkat SKI mempertahankan bendera, serasa tugas dan amanah dia yang ada
di SKI tidak mau secara mudah begitu saya beliau serahkan kepada kita yang
belum ada apa – apanya dibanding mereka.
Kejadian lain yang juga tidak kalah mengesankan adalah
setelah kami berhasil merebut bendera SKI dari tangan kakak tingkat SKI ketika
itu kami berdiri diatas sebuh bukit diantara rawa – rawa. Saat saya berdiri
disamping saya ada teman saya yang pakaiannya sudah berselimut lumpur hitam nan
kental, ketika saya merundukkan kepala terlihat dari bagain bawah mata kaki
teman saya tersebut merayap seekor cacing tanah yang saya yakin tidak disadari
oleh teman saya tersebut, kareda saya melihat tidak ada ekspresi ketegangan
dalam wajah temanku tersebut. Maka reaksi tanggapan saya melihat kejadian itu
adalah tetap staycool untuk loncat –
loncat kegirangan merayakan kemenangan perebutan bendera SKI.
Setelah selesai semuanya termasuk pengambilan photo
bersama barulah kami kembali ke penginapan untuk membersihkan diri. Ketika itu
karena kamar mandi yang ada dipenginapan ternyata telah penuh maka diantara
dari kami memutuskan untuk menumpang di kamar mandi milik warga termasuk saya.
Setelah semua dirasa telah selesai maka dilanjutkan kegiatan penutupan kegiatan
MATRIKS.
Kegiatan MATRIKS bagi saya adalah salah satu kegiatan awal
dari berbagai kegiatan yang mengesankan di SKI. Setelah mengikuti kegiatan
tersebut dilain kesempatan saya diminta Mbk Intan dalam acara AAI untuk
menyampaikan ke teman – teman kelompok AAI tentang pengalaman dan pelajaran
yang didapat selama mengikuti kegiatan MATRIKS.
Penjelasan saya kepada teman – teman kelompok AAI adalah
gambaran umum ketika saya mengikuti kegiatan MATRIKS adalah dapat diibaratkan
sebagai wilayah dataran rendah yang panas penuh dengan problematika kehidupan
yaitu ketika saya berada di Solo atau posisinya saya belum berangkat ke tempat
tujuan kegiatan MATRIKS dibandingkan dengan setelah sampainya di lokasi
kegiatan walaupun awalnya masih dirasa sedikit panas karena memang ketika
sampai pada waktu siang namun setelah itu hadir kesejukan lingkungannya yang
sampai menusuk jernih kedalam qolbu. Disana kami peserta MATRIKS berasa
diisolasi dalam sebuah syurga dunia nan indah dan sejuk menenagkan. Saya
katakan trik panitia memang bagus, karena kita dibolehkan membawa alat
kominikasi padalah sewajarnya pada kegiatan sejenisnya peserta dilarang membawa
alat komunikasi. Namun bolehpun membawa alat komunikasi, alat tersebut tidak
dapat berfaedah karena memang dilokasi tersebut tidak ada koneksi jaringan yang
mendukung digunakannya alat komunikasi yang dibawa. Jadi dengan berfikiran
positif saya mencoba memahami maksud dan tujuannya yaitu agar kita peserta
MATRIKS lebih fokus dan konsentrasi dengan runtutan kegiatan yang ada dalam
MATRIKS. Keadaan selama disana, kami diminta untuk memikirkan bagaimana nasib
umat Islam saat ini ditengah problematika kehidupan, dimana seperti yang telah
kita ketahui bersama bahwa kita berposisi sebagai Mahasiswa sebuah harapan emas
bagi keluarag, masyarakat, negara, bangsa dan agama penuh harapan dan impian yang banyak orang
menantinya untuk langkah sebuah kemajuan ke arah pencerahan kebaikan. Sedangkan
kita sendiri malah merasa acuh tak acuh dengan keadaan tersebut. Semuanya
dilakukan dengan pengimbangan sestematika perbaikan dari dalam diri kita masing
– masing yang mantab dengan Iman dan Takwa. Maka setelah mengikuti kegiatan
MATRIKS kami sebagai peserta diharapkan dapat lebih memiliki rasa peka terhadap
kondisi disekitar dan bagaimana peran yang perlu kita lakukan sesuai disiplin
ilmu masing – masing dengan dilengkapi wawasan keilmuan yang lain namun juga
tetap dengan optimal.
Follow up dari kegiatan MATRIKS adalah kami diarahkan
untuk mengikuti AMSKI Academy (Akademi Anggota Muda SKI). Kami Mahasiswa baru
Muslim FMIPA baik yang mengikuti kegiatan MATRIKS ataupun tidak dibolehkan
mengikuti AMSKI Academy tersebut. Kegiatan ini kami diikutsertakan dalam
kinerja SKI dalam tiap bidangnya. Dalam akademi ini kami diberi tugas
keorganisasian membuat acara TPA di Dusbin atau Dusun Binaan dan Mabit atau
Malam Bina Iman dan Taqwa.
Setelah dibentuk kepanitiaan sedemikian rupa untuk masing
– masing kegiatan tersebut kami segera melakukan amanah yang diberikan dengan
penuh semangat. Dari awal sinilah saya mulai memahami tentang hakikat
keorganisasian, amanah, tanggung jawab, kesungguhan, dan kerjasama. Dari tiap
sie mulai kumpul atau istilahnya yang baru aku kenal lewat SKI ini adalah
Syuro’. Mulai dari sie acara, sie perijinan, sie PDD, sie konsumsi dan lain
sebagainya. Lagi – lagi saya merasakan faedah dari magang keorganisasian ini,
yaitu semakin faham peran tiap sie dan keterkaitannya satu sama lain antar sie.
Pertama Ketua Panitia, adalah satu tingkat dibawah Ketua
Umum yang memiliki amanah sebagai pemimpin dalam keberlangsungannya suatu
kegiatan, acara, atau event tertentu. Ketua panitia juga bertugas menentukan
kapan saja dilakukan Syuro’ sampai nanti kapan akan diadakan eveluasi terkait
kegiatan yang telah selesai terlaksana. Sekretaris, bisa berjumlah satu atau
dua, adalah yang bertugas menulis absensi ketika Syuro’, membuat surat
proposal, surat perijinan kegiatan, perijinan sambutan, perijinan tempat dan
perijinan alat dan lain sebagainya untuk kepentingan kegiatan tersebut. Bendahara,
juga bisa berjumlah satu atau dua, bertugas untuk menanyakan dari tiap sie
kebutuhan apa yang perlu maka bendaharalah yang akan memberikan biayanya.
Penulisan dalam bentuk estimasi dana yang dibutuhkan tiap sie disatukan.
Sie
acara, membutuhkan banyak anggota, karena dibutuhkan banyak ide dan gagasan
untuk terlaksananya kegiatan tersebut, bahasan yang terkait diantaranya, rundown atau plot waktu yang rinci dan
tepat mulai dari pembukaan sampai penutup. Sie acara juga yang mengkonsep
segala hal selama kegiatan berlangsung.
Sie
perijinan, bertugas mengingatkan sekretaris untuk segera mencetak surat –
suratnya untuk segera dicatikan terkait tanda tangan yang dibutuhkan dan segera
dimasukkan ke pihak yang terkait.
Sie
perkap, menjadi sie yang tidak kalah penting dalam terlaksanannya kegiatan. Sie
ini dalam Syuro’ menanyakan alat apa saja yang dibutuhkan, sie ini juga ada
kerjasamanya antara perijinan – sekretaris – perkap, karena dibagian perijinan
juga ada surat perijinan alat dan tempat yang hubungannya dengan sie perkap.
Sie
konsumsi, sie ini dapat diibaratkan jantungnya dalam sebuah kegiatan, karena
menjadi salah satu tolak ukur juga terkait kesan peserta kegiatan dari segi
konsumsinya. Sie ini akan berhubungan dengan sie bendahara – sie konsumsi – sie
acara, ada sie acara karena terkait jumlah peserta dan bagaimana kondisi
peserta seperti orang tua, dewasa atau anak –anak, dan terkait bendahara
berhubungan dengan jumlah anggaran dana yang tersedia disesuaikan dengan
pembelian jenis konsumsinya.
Sie
PDD dengan kepanjangan Publikasi Dekorasi dan Dokumentasi. Dari kepanjangannya
dapat diketahui bahwa tugas sie PDD diantaranya mempublikasikan tentang akan
diadakannya kegiatan tersebut. Dapat melalui langsung atau tidak langsung.
Untuk langsung dengan cara sie PDD gencar – gencar memberi tahu kepada teman,
rekan atau orang lain face to face langsung menyampaikannya terkait alur acara,
tempat, tanggal, waktu dan lain sebagainya. Kalau tidak langsung bisa melalui
media sosial seperti FB, Twitter, WA bahkan SMS. Sie PDD juga yang akan membaut
pamflet yang akan dipublikasikan melalui media sosial atau dapat pula dicetak
untuk disebar di berbagai mading informasi. Apabila dalam kegiatan tersebut
membutuhkan MMT atau sepanduk, pin, stiker, souvenir dan lain sebagainya maka
bagian sie PDD juga yang memiliki tugas. Setelah mempublikasi selanjutnya
mendekorasi terkalit lokasi tempat diadakannya kegiatang. Kata – kata dekorasi
disini bukan hanya dimaksudkan dihias sedemikian rupa agar menarik, namun juga
perlu difikirkan tata letak posisi agar selama kegiatan berlangsung dapat
berjalan secara nyaman dan aman. Kemudian tugas PDD yaitu mendokumentasi selama
kegiatan berlangsung. Pada sesi dokumentasi sie PDD membutuhkan kamera yang
jumlah dan jenisnya sesuai kondisi kegiatan. Apabila kegiatannya lumayang besar
dan dalam lokasi yang cakupannya luas maka membutuhkan banyak kamera yang cukup
baik juga keadaanya.
Sie
Sponsorship dan Sie Danus, keduanya saya jadikan dalam satu pembahasan karena
memiliki satu tugas yang sama yaitu mencari dana untuk terlaksananya kegiatang.
Keterkaitan dengan sie lain adalah sie sponsorship dan sie danus dengan
sekretaris, karena berhubungan dengan mencari dananya menggunakan surat
proposal atau surat permohonan dana atau permohonan kerjasama untuk menjadi
sponsor. Perbedaan diantara keduanya adalah kalau sie sponsorship lebih dominan
mencari dana menggunakan cara memasukkan surat yang telah dibuat sekretaris ke
berbagai instansi atau perorangan yang dipandang memiliki peluang memberi donaturnya,
sedangkan sie danus lebih kerja secara langsung mengadakan fundrising dalam hal mencari dananya.
Kegiatan yang pertama dilaksanakan adalah TPA di Dusun
Binaan SKI keudian Mabit di NH. Dari masing – masing kegiatan telah dibentuk
ploting kepanitiaannya untuk seluruh AMSKI. Saya diamanahi dalam anggota sie
Acara pada kegiatan TPA di Dusun Binaan SKI daerah Mojosongo Surakarta. Disana
kami mengadakan berbagai lomba menarik untuk santi dan santriwati TPA,
diantaranya ada lomba mebaca puisi, mewarnai dan bebagai permainan lainnya.
Acaranya berlangsung sangat meriah dan terkesan. Salah satu yang membuat
terkesan adalah disana terdapat santriwati bernama dek Putri, yang memiliki
sifat menurut saya tidak biasa seperti anak kecil kebanyakan. Sebab emosionalnya
tidak labil dan sangat tergantung mood
yang diamiliki, sehingga mempengaruhi lingkungan bahkan orang yang baru tahu
kondisi itu pun pasti akan terkesan sebab tidak wajar seperti biasanya.
Acara tersebut berlangsung dengan lancar. Kami memulai
acara sekitar habis asaran dan selasai sekitar setelah Maghrib. Yang tidak
kalah terkesan dari kegiatan satu ini adalah ketika selesai untuk pulang dari
Dusbin keadaannya hujan deras, jadi kami sebua di perjalanan saling memakai
mantol. Pada kondisi tersebut begitu terasa kekuatan Ukhuwah diantarakita dan
kekuatan Dakwah yang menggelora dihati kami masing – masing.
Acara selanjutnya yang dilaksanakan oleh para AMSKI
setelah acara TPA di Dusbin (Dusun Binaan) SKI di daerah Mojosongo Surakara
adalah acara Mabit (Malam Binaan). Rencana acara Mabit akan dilaksanankan di
Ruang Seminar NHIC (Nurul Huda Islamic Center). Nurul Hudan atau lebih ternnya
disebut oleh kebanyakan orang warga UNS adalah “NH”. Gambaran kegiatannya
adalah kami disana menginap 2 hari 1 malam. Kegiatan tersebut terdiri atas
pemateri tentang keagamaan dan selainnya dilakukan amalan – amalan sunnah dan
beberapa permainan untuk pengakraban satu sama lainnya. Yang menjadi titip
sasaran tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan amalan – amalan yang kita
lakukan, harapannya setelah mengikuti kegiatan ini maka dikesehariannya tetap
rutin dilakukan amalan – amalnnya seperti membaca Al – Qur’an, hafalan Al –
Qur’an, sholat Dhuha, sholat Tahajud, al Mat’surat dan lain sebagainnya.
Kegiatan selanjutnya yang mengantikan AMSKI academy
adalah Wisuda AMSKI ke XVIII. Seluruh AMSKI setelah mengikuti serangkaian
kegiatan di AMSKI academy maka selanjutnya akan diwisuda dalam kegiatan wisuda
AMSKI ini. Dalam acara tersebut kami mendatanginya diminta untuk menggunakan
pakaian bawahan hitam dan atasan putih dengan jilbab yang hitam pula.
Wisuda ini dilakukan bukan hanya untuk kami Mahasiswa
Baru atau dari AMSKI academy saja, namun ternyata juga kakak tingkat SKI yang
sudah selesai periode kepengurusannya. Dalam bagian pemberian penghargaan,
sungguh tidak saya sangka saya mendapatkan predikat Cumlaude dalam wisuda AMSKI
ini. Yang mendapat predikat Cumlaude selain saya ada juga yaitu Dina Wahyu L, Marlina Dewi Ciputra, Shobrina
Afifah dan Usnida Umma Zahra. Sedangkan sahabat dekat saya Tri Hastuti Fatimah
mendapatkan predikat “Ter Wira - Wiri”. Namu walaupun penghargaanya seperti
itu, dia malah mendapatkan gelas cantik sebagai penghargaanya.
Demikian sepenggal kisah
sebelum saya menjadi Anggota Istimewa di SKI FMIPA UNS. Masih banyak kisah
menarik dan mengesankan yang saya dapat setelah menjadi Anggota Istimewa.
Alasan pemilihan judul yaitu “Sepenggal Kisah Sebelum Menjadi Anggota Istimewa”
sebab sesuai keterangan yang terdapat di BPP (Buku Pedoman Pengurus) yang saya
dapat setelah resmi menjadi pengurus SKI, maka sebelum resmi menjadi pengurus
SKI FMIPA UNS sebutan lain untuk AMSKI adalah Anggota Muda, sesuai kepanjangan
dari AMSKI yaitu Anggota Muda SKI. Sedangkan lebih jauh lagi sebelum menjadi
AMSKI atau sebutan lain sebagai Mahasiswa Muslim FMIPA UNS maka dikatakan
sebagai Anggota Biasa. Barulah setelah menjadi pengurus resmi dikatakan sebagai
Anggota Istimewa.
Komentar
Posting Komentar