Langkah Positif 3
Bismillah..
Assalamu’alaykum
wr wb..
Saya yakin ketika sahabat mengamati kawan – kawan
kita yang begitu nyaman, begitu santai dan begitu tenang mengenakan pakaian
yang super ketat, super minimalis ataupun super nerawang akan terpikir dalam
benak, “Apakah sebegitu teguhnya hati yang mereka miliki untuk melakukan semua
itu ?“. Ditambah lagi ketika orang – orang disekitarnya ada yang mencibir atau
bahkan ada yang mendukung hal yang dilakukan tersebut, maka semakin banyak
asumsi dan pendapat yang kompleks. Lucunya, hal tersebut sebanding juga dengan
semakin teguhnya hati mereka untuk melakukan hal tersebut walaupun semakin
banyak cibiran pula, bahkan menganggap hal – hal seperti itu adalah hal yang
wajar dikonsumsi oleh banyak indra pun juga ada. Sehingga tidak salah lagi
ketika mereka menganggap aneh dan asing ketika menemui hal yang berbalik dari
hal tersebut.
Namun semua itu akan berbeda ceritanya ketika yang
kita sebut diri kita sebagai seorang akhwat yang mengenakan pakaian longgar,
pakaian tebal, jilbab lebar, kaos kaki, masker, deker dll. Maka akan ada juga
orang disekitar kita yang berpikir, “Apakah sebegitu teguhnya hati yang mereka
miliki untuk melakuakan semua itu ?”.
Yang menjadi dasar perbedaan dari kedua hal
tersebut adalah tujuannya masing – masing. Saya yakin banyak sekali tujuan dari
pihak yang melakuakan hal di bahasan paragraf pertama. Namun dapat disimpulkan
tujuan mereka melakukan hal tersebut adalah untuk dunia. Beda hal nya dengan
pembahasan paragraf yang selanjutnya yang memiliki tujuan yaitu dunia dan
akhirat.
Pada paragraf yang didalamnya dibahas dikatakan
memiliki tujuan yaitu dunia sebab yang mereka jadikan tujuan akhir adalah
perhatian orang – orang disekitarnya, popularitas, eksistensi, pujian,
pengakuan yang segalanya bersifat duniawi. Tanpa terpikir dalam benak mereka
kalau apa yang mereka perbuat tersebut secara sadar ataupun tidak sadar akan
menjadi tanggungan bagi ayah, calon suami dan saudara laki – lakinya kelak di
akhirat.
Hubungan antara tingkah yang dilakukan tersebut
dengan dampaknya terhadap lingkungan adalah ketika kalian ( mengenakan pakaian
yang super ketat, super minimalis ataupun super nerawang ) maka lawan jenis
yang memandangnya akan berubah pikirannya. Yang awalnya jernih, tenang, encer
namun setelah dihadapi hal tersebut maka segalanya akan buyar, kalaupun ada
pihak yang malah semakin semangat atau apalah itu saya yakin rasa semangat
tersebut tidak bertahan lama dan tidak barokah karena datangnya semangat
tersebut bukan dari hal kebaikan.
Segalanya akan berbalik ketika kita membahas
pembahasan yang kedua yaitu bagian yang ketika kita sebagai seorang akhwat yang
mengenakan pakaian longgar, pakaian tebal, jilbab lebar, kaos kaki, masker,
deker dll. Apabila kalian menemui orang yang menanyakan atau kalian hanya
merasa mereka mengatakan dalam hati mereka, “Apakah sebegitu teguhnya hati yang
mereka miliki untuk melakuakan semua itu ?”. Maka saya tegaskan, kalian harus
menjawab “YES”. Kalian patut bangga dan bersyukur apabila kalian sedang dalam
proses menuju hal tersebut atau sedang dalam istiqomah menuju hal tersebut atau
bahkan meningkatkan lebih baik hal tersebut. Sebab tidak banyak yang Allah
ijinkan dari kita para perempuan yang memiliki keteguhan hati melakukan
semuanya itu.
Banyak alasan yang saya miliki untuk
menjaga amanah cahaya hidayah ini. Pertama, saya ingin ikut serta menjaga
amanah ayah, calon suami dan saudara laki – laki yang mereka diwajibkan untuk
menjaga perempuan mereka yaitu kita dari segala hal kejelekan. Kedua, lebih
luas dari cakupan ayah, calon suami dan saudara laki – laki maka orang – orang disekitar
lainnya pun yang awalnya pikirannya jernih dan bersih saya tidak ingin menjadi
penyebab berubahnya pikiran mereka menjadi kotor atau bahkan buyar tidak jelas.
Ketiga, segala bentuk cibiran, ejekan, celaan, sindiran dan yang lainnya semua
itu saya jadikan etos pemicu untuk menjadikan batu loncatan pembuktian bahwa
saya tidak kalah dengan mereka. Keempat, segala yang sederhana dan alami saya
yakini menghasilkan ketenangan dan ketentraman hati bagi pelaku dan orang
sekitarnya. Kelima, semakin saya yakini bahwa yang semakin dijaga itulah yang
semakin berharga.
Saya tersadar dengan keteguhan hati
ini dari Ayat Al – Quran yang dijelaskan dalam Surah Al – Kahfi tentang pemuda
– pemuda yang diberi keteguna hati.
“Kami
kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka
adalah pemuda – pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan kami tambah pula
untuk mereka petunjuk. Dan kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri
lalu mereka pun berdiri, “ Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi ;
kami sekali – kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau
demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran.” ” (Q.S Al
– Kahfi [18] : 14)
Keteguhan hati yang disampaikan dalam
ayat tersebut saya impementasikan dan saya singkronkan dengan keadaan para
perempuan terkait keteguhan hati mereka dalam hal berpakaian yang saya yakin
apabila dilakukan kajian pembahasan dalam kesempatan yang berlainan akan masih
banyak hal yang dapat di perinci lagi pembahasannya.
Alhamdulillah..
Wassalamu’alaykum
wr wb..
Komentar
Posting Komentar